blog ini merupakan karya sastra yang berisikan kritik sastra, cerpen dan puisi

Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Wednesday, September 25, 2019

MEMAKNAI ULANG SASTRA KORAN

Bukan kali yang pertama mempolemikkan sastra surat kabar atau lebih akrab dengan sebutan sastra koran yang kehadirannya telah menjadi genre sastra tersendiri. Sastra surat kabar setidaknya telah diakui sebagai sastra baru dengan segala keunikannya dan penulisnyapun dibaiat mendapat predikat sastrawan oleh pembacanya. Tapi tulisan ini tentu tidak menarik jika hanya mendebat para sastrawan surat kabar saja tanpa menguraikan karya yang dihasilkannya.
Ada baiknya memang di setiap media cetak menyediakan laman budaya yang memuat kolom essai, cerita pendek (cerpen), dan puisi. Di samping menambah sumber bacaan baru bagi pembaca di tengah hiruk pikuk berita yang menyajikan informasi mengenai politik, ekonomi, pendidikan, life style, dan sebagainya, laman budaya juga menjadi lahan baru bagi para penulis pemula untuk mencari peruntungan dengan mengirimkan karyanya.
Akan tetapi, seringkali tugas yang kedua ini belum terpenuhi. Laman budaya seringkali menjadi semacam ajang sapa bagi para penulis kenamaan, tempat mempolemikkan karya teman seangkatan agar bukunya dibeli oleh masyarakat, dan kadang tidak memberi ruang bagi para penulis pemula yang kelak akan menggantikan mereka.
Kualitas Sastra Surat Kabar
Pada awal tahun 2008 kita patut “angkat topi” pada Pena Kencana yang mengangkat sastra surat kabar dengan memberikan Anugerah Pena Kencana pada 100 puisi dan 20 cerita pendek terbaik yang pernah di muat di media massa. Meskipun Anugerah Pena Kencana juga masih menyisakan polemik, tapi ada satu hal yang bisa diambil sebagai kesimpulan bahwa sastra surat kabar sudah diperhitungkan.
Nah, setelah bermunculan nama-nama sastrawan lama dan baru disurat kabar, tugas yang kedua adalah menemukan kualitas karya mereka. Karena diakui atau tidak, saat ini surat kabar memiliki peran besar dalam mengangkat nama seorang sastrawan. Bahkan, menurut Sawali Tuhusetya dalam “Sastra Koran vs Sastra Cyber”, “Kompas kini dianggap menjadi “barometer” perkembangan sastra mutakhir. Tak heran jika ada yang bilang, jangan mengaku dirinya sebagai seorang pengarang apabila karyanya belum dimuat di koran nasional itu.”. hal inilah yang kemdian bagi sebagian penerbit, sastra surat kabar menjadi tolok ukur sendiri untuk mengukur tingkat kapabilitas seorang sastrawan yang menginginkan karyanya diterbitkan sebagai buku.
Menjadi tugas berat editorlah untuk menemukan kualitas tersebut. Tentu saja yang pernah dimuat di surat kabar adalah yang berkualitas bagi editor surat kabar tersebut. Tapi perlu ada pengawasan dari para akademisi sastra yang dalam hal ini kritikus sastra untuk memberikan penilaian terhadap karya yang pernah dimuat. Sayangnya, kolom bagi kritikus sastra sangat terbatas bahkan dapat dikatakan tidak ada di surat kabar. Akhirnya, kualitas sastra surat kabar tergantung selera dari editornya masing-masing.
Padahal, peran dari kritikus sastra sangatlah penting. Kita seharusnya tidak melulu memuat banyak karya tapi tidak berkualitas. Sedikit mengurai perjalanan perkembangan sastra Indonesia, peran kritikus hanya dinikmati semasa H. B. Jassin saja. Setelah itu, hampir tidak ditemukan kembali kritikus sastra yang kapabel di Indonesia. Hal ini mungkin karena tidak ditopang dengan menyediakan kolom kritik sastra di laman budaya pada surat kabar.
Dus, mengukur kemajuan sastra Indonesia seharusnya dengan barometer banyaknya sastrawan beserta kualitas karya yang dihasilkan didukung dengan adanya kawalan dari kritikus sastra yang bertugas sebagai “polisi sastra” dan peletak genre sastra Indonesia. Jadi diharapkan laman budaya pada surat kabar tidak hanya berhasil menemukan Chairil Anwar yang baru tetapi juga menemukan ribuan “Paus Sastra” macam H. B. Jassin yang anyar pula.
Sastra Cyber dan Masa Depan Sastra Surat Kabar
Banyak ulasan baik di koran maupun internet berbicara mengenai masa depan sastra surat kabar dengan membenturkannya dengan sastra cyber. Sastra koran dinilai oleh sebagian kalangan tidak relevan lagi dengan zamannya. Sebenarnya bukan tidak relevan lagi, tapi sulit untuk ditembus dan akhirnya banyak para penulis mengalihkan karya mereka dengan membuat blog sendiri atau mengirimkan ke blog sastra ternama. Dan posisi ini kemudian dimanfaatkan bagi pengelola blog untuk bersaing baik dengan sesama blog sastra bahkan dengan media cetak/koran.
Ada beberapa alasan tentunya mengapa banyak penulis mengalihkan karya mereka dari koran menuju cyber/blog. Pertama, surat kabar enggan untuk memasukkan karya penulis baru. Kedua, sastra blogger dapat diakses oleh siapa saja dan di mana saja, berbeda dengan koran yang hnaya dapat dibaca oleh kalangan tertentu dan tempat tertentu. Ketiga, di blog, para penulis dapat bertegur sapa bahkan mengelompokkan diri dengan membentuk komunitas-komunitas baru.
Tentunya dalam kualitas, sastra surat kabar lebih diakui kualitasnya meskipun terkadang di sastra cyber banyak pula ditemukan karya-karya yang berkualitas. Namun, karena sastra cyber tidak ada proses editing oleh editor sehingga sastra cyber lebih terlihat serampangan. Tidak salah kemudian muncul pernyataan bahwa sastra cyber tidak dapat dimasukkan ke dalam genre sastra karena bukanlah karya sastra.
Akan tetapi, mengutip pernyataan dari Redaksi Newsletter Hawe Pos Edisi Cultural Studies 21/Maret/VI/2007 “terlepas dari perdebatan soal kualitas dari karya sastra cyber, kehadiran situs-situs online atau blog dapat menjadi alternatif bagi para penulis untuk mengekspresikan karyanya secara lebih leluasa tanpa harus terikat kepada bentuk baku yang ada di media mainstrem. Pada gilirannya nanti, kehadiran sastra cyber ini dapat mewarnai perkembangan dunia sastra Indonesia yang masih stagnan. Setidaknya langkah ini sudah dimulai, dan tak mustahil dominasi sastra yang selama ini dikendalikan oleh media cetak akan segera berakhir digantikan oleh sastra cyber”.
Demi terwujudnya kualitas sastra Indonesia, kiranya baik editor sastra surat kabar dan pengelola sastra cyber dapat memikirkan ulang mengenai karya-karya yang akan dikonsumsi oleh pembacanya. Sastra Indonesia baru satu kali masuk finalis penghargaan nobel sastra dunia lewat Pramoedya Ananta Toer, dan jika kita terus menjaga kualitasnya tidak menutup kemungkinan pada tahun-tahun mendatang nobel sastra akan diraih oleh sastrawan Indonesia. Semoga.
Read More

KRITIK "SAKIT" SASTRA INDONESIA

Liza Wahyuninto

Pada tahun 1950, beberapa ahli sastra beranggapan bahwa kesusastraan mengalami kemunduran. Salah satu tokoh yang berpandangan bahwa kesusastraan Indonesia mengalami kemunduran adalah Sujadmoko. Dalam esainya yang berjudul Mengapa Konfrontasi, Sujadmoko melihat adanya krisis sastra akibat adanya krisis kepemimpinan politik. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa sastra Indonesia mengalami krisis karena yang ditulis hanya cerpen-cerpen kecil yang menceritakan psikologisme semata-mata.

Ulasan Sudjadmoko tersebut mendapat reaksi keras terutama dari para sastrawan. Para sastrawan tersebut antara lain, Nugroho Notosusanto, S.M. Ardan, dan Boejoeng Saleh. Mereka mengatakan bahwa kesusastraan Indonesia tumbuh subur. H.B. Jassin dalam simposium sastra yang diselenggarakan oleh Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada tahun 1954 mengemukakan bahwa kesusastraan Indonesia modern tidak mengalami krisis. Dia mengemukannya dengan bukti-bukti dan dokumentasi yang lengkap. Pada tahun 1955, dalam simposiun yang diadakan kembali di Fakultas sastra Universitas Indonesia, Harijadi S Hartowardojo mengemukakan pendapatnya melalui tulisan yang berjudul Puisi Indonesia Sesudah Chairil Anwar. Selain dalam simposium tersebut pendapat mengenai lahirnya angkatan sastra baru muncul dalam simposium-simposium yang diadakan di Yogyakarta, Solo, dan lain-lain.

Apa yang telah disampaikan oleh Sujadmoko tersebut sangat tepat jika dimunculkan pada saat ini. Saat yang menurut Faiz Mansur dalam ulasannya yang berjudul “Ragam Kritik Sastra Indonesia” sebagian orang menganggap, bahwa sastra adalah bidang marginal, terkucil dari gegap-gempita kesenian panggung dan televisi sekarang ini. Kita hanya menyaksikan eksistensi sastra pada panggung-panggung mini, atau acara bedah buku, temu penulis dengan pembaca yang pengunjungnya bisa kita hitung dengan jari.

Alasan utama bahwa kritik sastra harus berperan dalam membangkitkan semangat bersastra dan mencintai sastra. Pasca HB. Jassin yang memunculkkan angkatan Sastra Melayu Lama dan angkatan sastra modern hingga saat Korrie Layun Rampan yang menyemangati membentuk angkatan sastra 2000, minim bahkan hampir tidak ada kritikus sastra yang mewarnai perjalanan panjang kritik sastra Indonesia. Keadaan ini pulalah yang membuat kemasan sastra tidak menarik dan dinilai sebagai sesuatu yang marginal.

Bahkan menurut Putu Wijaya ketika berbicara dalam seminar bertajuk “Membuka Tabir dengan Sastra: Telaah Jejak Inspirator” yang diadakan oleh Universitas Diponegoro, Semarang, “pasca-Chairil Anwar tak ada gelombang besar dalam perkembangan sastra di Indonesia. Seperti Chairil Anwar yang mendobrak sastra dengan memperbarui bahasa, peran-peran pembaru sastra itu sebenarnya juga terlihat dari sosok WS. Rendra, Sutardji Chalzoum Bachri, dan lain-lain. Namun, para pembaru itu ternyata tidak menimbulkan efek besar terhadap dunia sastra”.

Tentu saja, Hal ini terjadi karena di Indonesia tidak ada kritikus sastra yang cukup berwibawa sehingga bisa menjelaskan arah perkembangan sastra. Hal inilah yang menjadi kerisauan bagi beberapa tokoh sastra Indonesia, menurut Putu Wijaya, “Kalau dulu, ada HB. Jassin yang menjelaskan karya-karya Chairil Anwar. Sesudah HB. Jassin, peran kritikus sangat minim. Ruang untuk melakukan kritik sastra juga sangat terbatas”.

Sastrawan Kritikus, Kritikus Sastrawan : Kekaburan Kritik Sastra Indonesia
Kekaburan kritik sastra di Indonesia mencapai puncaknya di saat para penulis (sastrawan) “ikut-ikutan” menjadi kritikitus. Kehadiran sastrawan kritikus-sastrawan kritikus ini mulanya memang sempat mengisi kekosongan kritikus sastra dan mewarnai dunia kesusatraan Indonesia. Akan tetapi, perkembangan ini lambat laun menjadi lahan saling “ejek” karya sastra yang dihasilkan oleh penulis.

Beberapa tokoh yang terlibat dalam pertentangan kritik sastra tersebut dikategorikan ke dalam beberapa bidang,yaitu; Para pakar sastra (akademisi-kampus): Rahmat Joko Pradopo (UGM), Panuti Sudjiman, MS. Hutagalung, Saleh Saat, Boen S. Oemarjati, Roman Ali, S. Effendi (UI), Th. Rahayu Prihatmi (Undip), Buyung Saleh (UNHAS). Seniman sekaligus pakar sastra: Sapardi Joko Damono, Arif Budiman, Subagio Sastro Wardoyo, Yakob Sumardjo, Darmanto Yatman, Gunawan Mohammad, Taufiq Ismail, WS. Rendra, HB. Jassin, Budi Darma, Suripan. Kritikus seniman: Sutardji Calzoum Bachri, Linus Suryadi, Abdul Hadi WM., Emha Ainun Najib, Korrie Layun Rampan.

Dualisme jabatan antara penulis (sastrawan) dan krikitikus sastra ini berpuncak pada kemarahan para pakar dan pengamat sastra yang menyatakan bahwa kritikus perlu membuat jarak sehingga lebih objektif. Akan tetapi himbauan dari para pakar tidak menyulutkan api pertentangan di antara sastrawan kritikus tersebut.

Pertentangan ini Misalnya apa yang ditulis oleh Emha Ainun Nadjib, pengembaraan Goenawan Mohamad tentang polemic kritik sastra – meskipun berlangsung tidak kentara – sejak Simposium Bahasa dan Kesusatraan tanggal 25-28 Oktober 1966 di Jakarta sampai peringatan Chairil Anwar, 30 April 1967 oleh Direktorat Bahasa dan Kesusastraan bersama BMKN antara Motinggo Boesye, Goenawan Mohamad, Arif Budiman dan Taufiq Ismail versus Lukman Ali M Saleh Saad, MS Hutagalung dan lain-lain. Selalu cenderung memisahkan kedua metode (dalam kritik sastra), Ganzheit dan Analitik secara ekstrim, seolah-olah keduanya sama sekali tidak ada unsure yang bisa disentuhkan.

Akan tetapi, terlepas dari itu semua, yang perlu untuk diperhatikan adalah pembaca karya sastra. Selama ini pembaca tidak pernah dilibatkan dan diajak berdialog oleh penulis. Padahal, seperti yang pernah di katakan oleh Radhar Panca Dahana, ”Sastra memang semestinya dikembalikan kepada pembaca, baik secara teoretis maupun praktis.” Di tingkat teoretis penyingkiran pembaca dalam penelaahan sastra, membuat sastra itu sendiri hanya berputar dalam lingkaran analitik antara para kritikus, ambisi penerbit, atau biografi pengarangnya.

Miskin Buku Teori Kritik Sastra
Kritik sastra adalah bidang kesusastraan yang terus menerus berkembang di dunia. Sebagai akibat dari kemajuan teknologi, perkembangan kritik sastra dunia tentu mempengaruhi perkembangan studi kritik sastra Indonesia. Pengaruh ini dapat timbul dari kerja-kerja kritik yang dilakukan oleh kritikus-kritikus sastra Indonesia—baik dari golongan akademisi, sastrawan, maupun peminat sastra—terhadap karya sastra Indonesia yang selanjutnya mendapatkan tanggapan dari masyarakat sastra dunia, kerja kritik pada karya-karya berbahasa asing, atau sebaliknya: kerja kritik pada karya-karya Indonesia oleh kritikus-kritikus asing, maupun transfer pengetahuan dalam bentuk studi banding dan penterjemahan teks atau buku-buku teori kritik sastra.

Sayangnya, hingga saat ini, kesusastraan Indonesia dapat dikatakan terus saja miskin buku-buku teori kritik sastra. Buku-buku teori yang ada, kebanyakan merupakan buku terbitan lama dengan pembicaraan yang tidak lagi mutakhir. Buku-buku terbitan lama itu pun benar-benar sulit didapat karena jumlahnya yang sedikit dan hanya dimiliki oleh kalangan terbatas.

Kesusastraan Indonesia memang sudah dinilai maju dan berkembang dari waktu ke waktu, dari zaman ke zaman, dan dari angkatan ke angkatan. Akan tetapi kemajuan tersebut hanya dengan kemunculan karya dan tokoh sastra belaka, tanpa di dukung oleh munculnya teori baru terutama dari kritikus sastra yang tentu saja berfungsi sebagai analisa terhadap karya yang meliputi penilaian dan analisis, penafsiran, dan penilaian terhadap teks sastra.

Pentingnya kritik sastra menurut Murray Krieger dalam karyanya “Criticism as a Secondary Art”, karena kritik sastra bertujuan mengungkap keaslian sebuah karya, sebagai penengah antara karya asli dan kebudayaan pendukungnya, mendebat pendapat yang telah ada—baik yang dibuat oleh perseorangan, maupun hasil kerja tim, serta menjelaskan pada masyarakat bahwa karya sastra adalah hasil interpretasi pengarang terhadap suatu fenomena sehingga terkadang berbeda dan “mengacuhkan” kenyataan yang diakui masyarakat, untuk hal ini karya sastra perlu dilindungi karena karya tersebut perlu dipandang terlepas dari pengarangnya sebagai konstruksi yang otonom/berdiri sendiri.

Kemajuan kesusastraan Indonesia tentunya akan dapat dinikmati oleh semua pihak jika para penulis (sastrawan), pakar sastra (peneliti dan akademisi), pengamat sastra (pembaca), penikmat sastra dan kritikus sastra mampu menempatkan diri pada tempat yang semestinya mereka berada. Menghindarkan diri dari dualisme kerja tentunya akan mendukung terciptanya karya sastra yang bercita rasa tinggi.

Sebagai kritikus sastra, hendaknya juga tidak melupakan himbauan yang ditulis oleh TS Eliot dalam Tradition and Individual Talent (The Sacret Wood,
London: Methuen Co, 1960), “Kritik yang jujur dan apresiatif
diarahkan bukan kepada penyair, tetapi pada sajaknya. Jika kita
memerhatikan omongan kacau para kritikus di koran serta desir ulangan
populer yang menyusulnya, kita akan mendengar banyak nama penyair.
Sedangkan jika kita mencari kenikmatan karya, kita akan jarang
mendapatkannya.”

Daftar bacaan:
Ainun, Nadjib Emha, 1995, Terus Menerba Budaya Tanding, Pengantar Halim HD.. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar)
Suryadi, Linus, 1995, Dari Pujangga ke Penulis Jawa, Pengantar Dr. Alex Sudewa. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar)
Murray Krieger, 1981, “Criticism as a Secondary Art”, dalam What Is Criticism?, editor Paul Hernadi.. Bloomingtoon: Indiana University Press.
Goesprih, Kritik Sastra (Catatan Ringkas Utk Keperluan Sendiri). (http://www.goesprih.blogspot.com, February 18, 2008)
Faiz Mansur, Ragam Kritik Sastra Indonesia. (13 Seprtember 2005)
Karya Banyak, Indonesia Krisis Kritikus Sastra. (Kompas, Senin, 28 April 2008)
Read More