Mungkin aku mati, saat ini di batas musim panas yang paling menyengat, kulitku merintih panas, daun-daun tak berwarna dan bunga sakura menangis di ranting kering, tak berwajah.
Bangku-bangku putih, langit tak lebih secarik kertas yang belum dibubuhi tinta, mataku kosong dan hampa, hitamnya tidak berdaya menembus cakrawala, ini panas paling sempurna, mengawet luka.
Jalan-jalan sepi, kenangan rebah di dalam kepingan terik matahari, awan mengering menampung secangkir airmataku, yang terakhir. Entah kapan ini terjadi, tiba-tiba pagi ini, aku melihat di luar jendela, tubuhku terkapar di sana, semakin lelah meronta.
Aku kehilangan matahari, api tertinggal di mata bulan, sungai, lembah dan bukit hanyalah imaginasi dan malam adalah sunyi yang dibicarakan malaikat, mengerat hatiku yang sekarat.
0 comments:
Post a Comment