pada angin di musim yang begitu gersang.
akasia dan tabebuya begitu asik menabur kembangnya.
sepintas,
harum dan lembut.
cantik,
tak terhiraukan.
aah, sayangku,
pada perjalanan yang tak bisa aku tebak dimana dan kemana akan menemu,
maka menjadi sederhana mungkin sudah cukup.
seperti mereka.
kita sudah bertanya,
bukan?
mari kembali berjalan.
berjalan,saja.
“..apa kalian sama denganku?
sedang berharap kepada langit melahirkan hujan?..”
kita cukupkan kepada doa ya,semoga saja dia mendengar..
: kemarau.
kemarau?
…
ini hanya kemarau.sayang..
0 comments:
Post a Comment