blog ini merupakan karya sastra yang berisikan kritik sastra, cerpen dan puisi

Friday, April 10, 2020

PESAN RINDU

Untuk Bunga Citra Lestari saat meninggalnya suami tercinta

Dedaunan ini seperti kelopak waktu yang gugur dari mata hari sore itu, ketika langit dan jalan saling menulis rindu, tentang kau dan aku, tentang mimpi yang tersangkut di ranting malam, saat Tuhan mencabut nyawamu.

Aku terkapar di samping bulan, tersudut gundah, hatiku terbelah dua, seperti bulan kita yang pecah, darahnya mengalir ke sungai kenangan, banjir merah di hulu menghanyutkan ku ke lautan duka, menyapu semua warna, bahkan biru yang kujumpai di matamu, setangkai bunga kering yang menyisakan wanginya di telaga jiwa, bening dan tidak lelah memberiku udara.

Lalu air mata, begitu tersiksa, menyampaikan segala carut marut pedih luka, tak terbanding yang kurasa, mimpi-mimpi kembali berjalan di angkasa, sementara jalan menuju rumah kita mengantarmu pergi dengan terpaksa, seluruh aku yang terikat di dalam rohmu, jasadku pun sudah hancur bersama.

Apa yang terlihat, aku yang bangun pagi, memandang kosong, kantung mataku sangat berat, kelopak waktu bersarungkan warna-warna musim berserakan, basah dibujuk hujan, pelataran seperti langit sepi, hilang intonasi.

Pun jalan ini masih menadah rindu, bunyi telapak kaki dan deru angin saling menyulam pesan, sajak-sajak yang kudengar dari malaikat semalam telah menjadi catatan.

Kau telah pulang, bicaralah pada Tuhan, aku sedang berdandan dengan keimanan, menunggu kematian tidaklah menakutkan, di sana lukaku akan sembuh, meninggalkan semua keluh, karena dekap kita kembali penuh.

0 comments:

Post a Comment