blog ini merupakan karya sastra yang berisikan kritik sastra, cerpen dan puisi

Wednesday, April 22, 2020

KATA KITA

Sudah kukatakan
sepenuh cinta dan manja
aku benci kita berjumpa
jika hanya sesaat
membuat rindu kembali sesat

sudah kuulang
berkali-kali
aku memintamu pulang
bukan untuk percintaan
tapi genapkan
luka yang masih ganjil di dalam

aku tidak diam
meski bibirku terkatup rapat
banyak kata-kata
begitu juga hasrat
telah menjadi pesan
kutitip pada malaikat

pada akhirnya
riuh jeritan dan panggilan
tidak pernah selesai dengan tangisan
air mata hanyalah hujan
hanyut di perairan
dan rindu percuma
hatiku yang kosong
ditinggal kenangan
Read More

MATAHARI DAN LANGIT JINGGA

Berpuluh-puluh jalan coba kususuri, mengintai bayang-bayangmu lewat senja di muka pintu, terkadang aku mengejar waktu, menuju ke rumah yang belum kita tuju, di sana ada matahari dan langit jingga, sementara di sini hanya hujan sedang menggila.

Kusembunyikan separuh hatiku di dalam tubuh puisi, ketika malam menyikat cahaya di paras rembulan sepi, padahal petang masih begini, mengikat kenangan di tirai pintu, sesekali angin merayu dan membuai, membujuk ingatan dengan manja, menggoda luka berkali-kali; hujan di luar masih tertawa enggan berhenti.

Kesepian ini bersambung lagi, tak pernah melepaskanku sendiri, kadang-kadang terasa  menikam dadaku, sesekali seperti kematian yang belum aku tandatangani dengan rindu...
Read More

Friday, April 17, 2020

TAHUN-TAHUN YANG KAU BAWA PERGI

Gedung-gedung lemas dalam rindu
Beberapa titik kenangan menghunjam laju
Deras mencumbu jalan-jalan yang telah kehilangan temu
Dimana bahuku selalu berpapasan dengan sunyi
Hingga aku gagal menghafal tahun-tahun yang kau bawa pergi
Pada musim yang pernah Januari.

Langit gelap menghiasi paras kota
Warna-warna tanggal dari bunga
Pesan-pesan angin jatuh dari telinga jendela
Sembunyikan dunia dari mataku yang luka
Cidera oleh kepergianmu tanpa melihatku yang menjatuhkan airmata, tanpa sengaja.
Read More

Thursday, April 16, 2020

SEMUSIM LAGI


Musim tanpamu
Aku sepi dalam rindu
Bunga menangis di ranting
Air matanya jatuh dalam puisiku
Menjadi sedih yang gering

Aku minta padamu kekasih
Jangan tinggalkan aku
Pada musim tanpa temu
Jangan pernah pergi dari mimpi
Agar aku dan bunga ini
Bisa hidup untuk semusim lagi

Tidak banyak yang aku mau
Hanya satu
Kembalikan hatiku yang dahulu
Sebelum kenal apa itu rindu
Sebelum terluka olehmu
Sebelum aku tau
Memuisikan senja menjadi biru
Read More

Saturday, April 11, 2020

RINDU TAK BERTUAN

Riak-riak rindu tak lagi sembunyi
Di dalam hati
Kini terbit dalam kata-kata
Kutuliskan sebagai rahasia
Yang menjadi jarak antara anak mata

Jelas aku sengsara
Waktu bagai menyakiti tubuh hati
Memberi mimpi-mimpi
Lalu menghempas ingin
Ke jurang rindu yang dalam

Aku menginginkan dia
Seperti puisi dambakan aksara
Terbina dengan sempurna
Istilah, bahasa, kosa kata dan makna

Namun kini
Aku bagai sebuah buku
Di perpustakaan biru
Tanpa huruf dan ejaan
Kosong tanpa tulisan
Read More

BERMIMPI DI BALIK LANGIT

Angin membawamu pergi...
Begitu halus, begitu sembunyi
hingga tiba-tiba kurasa kosongnya hati
seperti cinta yang dilahirkan sebagai bayi

Memarahi waktu...
bukan sifatku melampiaskan pedih ini padamu
pada takdir atau pada yg lain
meski kehilangan belum menemukan jalan pulang
kebencian sedang kubenamkan
dalam-dalam
melupakanmu dengan cara yang paling manis
seperti tajam pena yang tak pernah membuat kertas menangis

Berdiri sendiri di sini
mengkhayalkan mimpi-mimpi di balik langit senja
mengayuh luka di antara gejolak gelombang
dan kesepian karang
aku entah di mana, sayang
di hatimu aku tak bisa bermukim
berkelana di tiap penjuru musim

Aku ingin menjadi matahari
meski tidak jelita seperti bulan
setidaknya aku setia menemani
walau dengan cara menanti
hingga siang pulang ke dalam pelukan
aku ingin setiap kali terbenam
kita tetap saling memandang
kau melihatku mati dan hidup lagi dengan luka merah yang kau sebut puisi
Read More

PAGI PERTAMA FEBRUARI

pagi sedang meraba matahari di pucuk langit yang kembali muda,

rindu seperti burung-burung yang bersayap perak, hilang dalam silau cahaya,

laut menggigil perlahan, menunggu ombak sampai ke tepian, mencuri sedikit dekap dengan pasir dan menghilangkan jejak-jejak yang kupanggil

deru angin dan suara ombak saling merayu, sampai ke telingaku begitu sedih dan menyayat, seperti lolongan hati yang carik halkumnya, terkoyak

matahari yang tidak bertangkai, langit tanpa jendela, laut yang tiada jalan, kapal-kapal hilang...

kini kisah aku dan dia ada dalam semesta, meski tak bisa kusentuh, tetap terasa, seperti pagi, langit, matahari, laut dan jalanan ini yang menjadi saksi pada hatiku yang masih gagah berdiri...
Read More