blog ini merupakan karya sastra yang berisikan kritik sastra, cerpen dan puisi

Friday, April 10, 2020

SEBAIT

Malam sudah menutup pintu, mengurung aku dengan kesepian di bilik pagi yang belum tumbuh matahari, sekeping hati di dalam buku puisi, menunggu disentuhmu untuk sebait tulisan romantis mengenai rindu.

Bilik tanpa jendela, buku tanpa halamannya, helai-helai daun menjerit di luar sana, sementara bait-bait masih gemetar menyulam suara hujan dan desah bulan di tepi ranjang, mengisi baris kosong yang masih telanjang.

Kita belum sempat bercinta, tapi asmara pun sudah melepaskan layarnya, angin menggiring musim pelayaran yang jauh, di mana aku ingin kita saling sentuh meski hanya lewat drkapan tanpa tubuh.

Terserah waktu, jika perjalanan di laut adalah nautika yang tak pernah mengizinkan pertemuan, aku tidak akan mendesak, mencintaimu dalam diam adalah cara hatiku bekerja dengan setia, hingga akhirnya kau pulang melihatku, meski hanya kenangan yang kau catat di dalam buku.

"Tulislah aku."
Read More

MENCATAT HATI

Mengurai kesepian di sini, rindu jatuh berkali-kali di jalan-jalan yang pernah engkau tapaki yang hilang dibakar mentari.

Bukan aku  menoreh kembali kenangan, tapi hati masih mengenang, seperti ini malam jendelaku membingkai separuh bulan dan separuh langit telanjang.

Berceritalah tentang suratan, pagi yang masih bayi merengek dalam buaian sunyi, matahari masih jauh dari langit, manakala mimpi dalam perjalanan pulang, memunggah sealmari waktu kemarin ku yang tertinggal di dalam saku bajumu.

Aku masih terlentang, lampu kamar yang suram serta bayang-bayang di dinding saling menikam, dingin tak lebih dari ingatanku pada pelukan terakhirmu disini, ketika rintik-rintik hujan sayup-sayup pergi, mengiris lukaku yang mati.

Sudah biasa, aku memeluk tubuhku sendiri, lalu membakar rindu di malam-malam sepi, hingga birahi terlucut dari puisi, tergeletak di ujung lipatan kertas, menjerit keras, klimaks sedih yang belum puas.
Read More

IZINKAN AKU

Semalam, aku berdiri di depan pintu ini, mencuri sedikit matahari dari tembus kaca yang melewati mata, ku menangkap kenangan dengan keriput yang tak terasa, lalu senja di langit tak sempat aku sapa, lantaran sibuk menyeka lebihan rindu yang melintir dari dada.

Izinkan aku memanggilmu kekasih, meski belum berkisah, di bab-bab yang kutulis tentang mimpi hingga penaku patah di jari, aku tak ingin lebih sedih dari hujan yang merintih, tak ingin lebih luka dari pisau yang sengaja mengiris kenangan, aku ingin diam-diam jatuh dalam pelukan dan sembunyikan hatiku di dalam hatimu, sayang...
Read More

LANGIT YANG TAK BERKATA-KATA

Meski berkali-kali ia menjadi senja dan mengutip mentari di dalam dada, hingga malam tumpahkan gelap dan sunyi, ia masih tidak sembunyi dan ketika pagi bercerita tentang mimpi yang hilang dari ranjang, ia masih tetap mengisahkan hujan yang menangis di jalan-jalan.

Ia tak pernah berkata-kata, langit yang menulis seluruh semusim dalam satu rasa, mengeja kerinduan di separuh Maret yang tenggelam dalam air mata, menetes dari luka yang gagal dijahit waktu, cecerkan semua kenangan tentangmu.

Langit itu beku, seperti tungguku yang sudah menjadi batu, hujan di sungai-sungai dan bukit-bukit mu, perahu-perahu kecil yang memunggah rindu, ikan-ikan yang meloncat ke langit, menjadi bintang di malam-malam yang sempit, selalu kulihat di langit kotaku, seperti matamu yang jauh menatap sendu.

Langit ini kehilangan bicara, walau dulu ia selalu mengisahkan pelangi dan senja, namun setelah semusim hujan datang dan kau tak pulang-pulang, semuanya mencair dan hanyut bersama kenangan, langit ini tak ingin lagi berbincang.
Read More

PERMINTAAN HATI

Aku melipat matahari di ujung pelipis pagi yang masih mengantuk, juraian gerimis sudah berhenti, titik terakhir mendekapku dalam selimut, menjarah sepi di beranda hati dan mengulum rindu di dua belahan bibir ini.

Cepat-cepat jendela memanggil angin, sepatah dua kabar tanpa pesan berserakan di kertas-kertas yang carik semalam, kenangan menggagahi fikiran dan mencantum kembali keping-keping wajahmu yang berkecai terhempas di tembok perpisahan.

Dekaplah aku meski tanpa rindu, aku hanya ingin sedetik membaca degupmu, mengeja waktu dan akan kulepaskan semua ke dalam udara, terbang ke langit dan hilang di sana, sementara cinta perlahan-lahan meluruhkan kelopaknya, aku telah meminta membunuh rinduku dengan sederhana.
Read More

SEORANG AKU

Pria itu yang raganya kau tumbuhkan dari rasa rindu yang menumpuk, lalu kau datanginya dengan cinta, kau buka dadamu, kau perlihatkan merah, ghairah, sehingga dia mulai dewasa dan mengeja-geja asmara dalam gelita.

Pria itu kau serupakan dengan musim, kau singgahi dan pergi atau kemudian kau ganti lewat hati, dia mulai berkenalan dengan luka dan beranjak ke negeri sepi, memeluk perasaannya sendiri, mengasuh mimpi-mimpi dikamar yang terkunci.

Pria itu seperti bangku sunyi, tiada lagi labuhan rindu atau angin merdu yang membawa pesanmu, daun-daun kering enggan berbunyi, jatuh dengan senyap dan membiarkan kenangan pergi, tak pernah hujan dari langit memanggilnya kembali.

Pria itu perlahan-lahan hancur, dia tidak mati, berkeping-keping ia menjadi puisi, selalu dibaca oleh air mata, helai-helai basah berserakan di lantai pustaka, sebuah jurnal koyak oleh masa lalu, tak tertulis olehmu,

"Setangkai aku, pria tanpa bunga di musim rindu."
Read More

DI KOTA BIRU

Kusimpan lambaian terakhirmu di kota biru...

Sebelum kereta ini berjalan, berlembar-lembar surat telah menjadi sayap, pergi dari jendela dan terbang ke dalam udara, jatuh di sepatu dan mengikutmu pulang ke dalam kenangan itu.

Beberapa mil, rindu yang menghantam, nyaris tangkai jantung ku putus, ingin aku hentikan kereta ini dan berlari mengejarmu yang dibawa matahari ke rumah senja, meski di dindingnya jingga sudah tertanggal di sana, aku sudah lama mengutip warna-warna dari hati kita dan ku tambalkan di atas luka.

Segerombolan hujan, menitik pedih di atas bumbung kereta, ku bisikan percakapan mereka, tak satu pun tentang kita, hingga senja tenggelam di dalam tubuhku, aku merasa pipiku sedih digores air matamu.

Stasiun yang tak pernah sepi, begitu ramai kita berdiri, tak saling mengenali, cerita-cerita pergi yang tak kembali terduduk di kersi sunyi, nada-nada pilu bagai gesekan biola yang membunuh lagu, aku hanya merasakan dari dalam gerbong, beberapa potong doa yang koyak serta penantian yang tamat setelah memperkosa beribu hasrat.

Pun kita, sudah terlerai dalam bencana, begitu jauh mereka memasang jarak dan perbedaan, menaklukan logika dan alasan, hingga bunga-bunga rindu menangis saat berkembang.

Biarlah aku memilih jalan, meski cinta tak bisa menyatukan, kepergian tak lebih dari harapanku untuk melihatmu bahagia, karena aku tahu tidak mudah menyusun kata-kata,
di dalam sebuah algebra...
Read More